Sebele, Belat — Potensi pertanian, peternakan, dan perikanan di Desa Sungai Asam, Kecamatan Belat, Kabupaten Karimun, sejauh ini belum mampu digarap secara optimal. Meski pemerintah daerah kerap menyalurkan berbagai bantuan, hasilnya belum berjalan sesuai harapan. Penyebab utamanya ternyata sederhana namun krusial: keterbatasan tenaga ahli yang mendampingi masyarakat secara langsung.
Kepala Desa Sungai Asam, Marsudi, menyampaikan hal tersebut saat ditemui awak media di Desa Sebele, Senin (26/10/2026). Menurutnya, warga sangat berkeinginan meningkatkan taraf hidup melalui ketiga sektor tersebut, namun pengetahuan teknis yang dimiliki masih sangat terbatas.
"Desa kami krisis tenaga ahli, Pak. Apapun bantuan yang diberikan pemerintah daerah sering kali gagal atau tidak sesuai harapan karena tidak ada pendampingan dari tenaga ahli di desa kami. Warga tahu ingin bertani, beternak, dan menangkap ikan dengan baik, tapi belum memahami cara yang benar agar hasilnya maksimal dan bernilai ekonomi," ujar Marsudi dengan nada prihatin.
Secara geografis, Desa Sungai Asam dikelilingi perairan dan memiliki karakteristik khas wilayah pesisir. Daerah ini pun telah dicanangkan sebagai kawasan pengembangan wisata. Namun warga berharap pengembangan tidak berhenti pada sektor pariwisata semata.
Masyarakat mendambakan terwujudnya konsep agrowisata yang terintegrasi — mencakup agrowisata pertanian, peternakan, hingga perikanan. Dengan begitu, wisatawan tidak hanya berkunjung untuk menikmati pemandangan, tetapi juga bisa melihat, belajar, dan membeli hasil produksi warga secara langsung.
Untuk mewujudkan harapan tersebut, Kades Marsudi berencana menyusun langkah strategis: menyusun profil dan kajian potensi desa yang disusun oleh pihak yang berkompeten. Langkah ini dinilai penting agar Desa Sungai Asam lebih dikenal dan menarik minat investasi.
"Desa Sungai Asam menyimpan banyak potensi yang belum tergarap. Komitmen kami adalah berinovasi agar potensi tersebut diminati pelaku usaha untuk berinvestasi di desa kami. Tapi semua itu butuh dasar data dan rencana yang matang, bukan sekadar wacana," tegasnya.
Mengapa Tenaga Ahli Menjadi Kunci Utama?
Kehadiran tenaga ahli bukan sekadar pelengkap, melainkan pengubah permainan (game changer) bagi masyarakat pesisir dan kepulauan. Wilayah ini memiliki tantangan unik seperti lahan terbatas, kerentanan terhadap perubahan iklim, dan keterisolasian yang menuntut pendekatan berbasis sains dan teknologi agar potensi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan
Dari Sektor Pertanian, Tenaga ahli membantu masyarakat mengolah tanah berpasir dan bersalinitas tinggi dengan teknik rekayasa tanah, memilih komoditas yang tahan kondisi ekstrem, serta mendiversifikasi pangan lokal agar desa lebih mandiri pangan.
Dari Sektor Peternakan, Di pulau kecil, pakan hijau dan lahan terbatas menjadi kendala. Tenaga ahli merancang sistem integrasi tanaman-ternak, memformulasikan pakan alternatif dari sumber daya lokal, serta memilih jenis ternak yang adaptif terhadap iklim pulau.
Dari Sektor Perikanan, Mengubah pola pikir nelayan dari sekadar "menangkap ikan" menjadi "mengelola sumber daya laut". Mulai dari alat tangkap ramah lingkungan, pembentukan zona perlindungan laut, hingga pengolahan pasca-panen agar ikan memiliki nilai jual lebih tinggi dan tahan lama.
Pendampingan tenaga ahli membawa dampak yang meluas, tidak hanya soal teknik bertani atau melaut:
- Memutus rantai ketergantungan pada tengkulak melalui pembentukan kelembagaan ekonomi warga
- Mentransfer ilmu pengetahuan sehingga warga bisa mandiri dan melatih pemuda lokal menjadi penerus
- Membantu adaptasi perubahan iklim yang makin terasa dampaknya di wilayah pesisir
Pemerintah daerah diharapkan dapat memperhatikan keluhan ini. Bantuan yang disertai pendampingan teknis berkelanjutan diyakini akan jauh lebih efektif dibandingkan pemberian bantuan fisik tanpa arah. Sebagaimana pepatah: berikan pancingan, bukan ikannya. Dan tenaga ahli adalah orang yang mengajarkan cara memancing dengan benar.
Edi.




