Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

HUNTARA TAK KUNJUNG TIBA KORBAN BANJIR HANYA DAPAT JANJI MANIS BELAKA

Senin, 16 Maret 2026 | Maret 16, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-15T17:02:40Z

Empat bulan sudah berlalu sejak banjir dan longsor melanda wilayah Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur. Namun bagi warga Dusun Peulalu, Desa Blang Seunong, masa pemulihan belum benar-benar dimulai. Hingga hari ini, puluhan keluarga masih bertahan hidup di tenda dan gubuk seadanya, menunggu janji pembangunan hunian sementara yang tak kunjung tiba.

Di sudut desa yang masih menyisakan bekas lumpur dan kayu hanyut, tampak bangunan huntara berdiri setengah jadi. Tiang-tiang kayu dan rangka bangunan yang belum selesai menjadi saksi terhentinya proyek yang diharapkan mampu menjadi tempat berteduh bagi para korban bencana.

Sebanyak 40 kepala keluarga di dusun ini masih menanti kepastian. Mereka berharap bangunan huntara segera selesai agar dapat meninggalkan tenda darurat yang telah berbulan-bulan menjadi tempat tinggal mereka.
Kepala Dusun Peulalu, Amran, mengatakan pembangunan huntara terhenti karena para pekerja meninggalkan lokasi proyek.

Menurutnya, para pekerja mengaku belum menerima pembayaran dari pihak terkait sehingga tidak lagi melanjutkan pekerjaan.
“Huntara sampai hari ini belum siap karena kontraktornya melarikan diri. Mereka juga mengaku belum dibayar oleh pihak BNPB,” ujar Amran.
Ia juga menambahkan, sejak bencana terjadi, dusun mereka jarang mendapatkan kunjungan dari pihak pemerintah daerah. Warga merasa perhatian terhadap kondisi mereka masih sangat minim.

Di tengah keterbatasan, warga berusaha bertahan dengan cara seadanya. Intan Putriyani, salah satu warga Dusun Peulalu, menceritakan bagaimana dirinya bersama keluarga harus mengumpulkan kayu bekas untuk membangun gubuk sederhana setelah banjir menghancurkan tempat tinggal mereka.

“Sudah dua bulan saya tinggal di gubuk ini. Setelah banjir kami kumpulkan kayu bekas dan membuat barak sendiri. Huntara sampai sekarang belum siap, kontraktor dan pekerjanya sudah pergi,” kata Intan.
Ia juga menyebutkan, sebagian pekerja yang sempat bekerja di proyek huntara bahkan meninggalkan hutang di kedai-kedai milik warga sebelum pergi dari desa tersebut.


Harapan yang sama juga disampaikan Murtini, warga lainnya. Ia berharap pemerintah segera menyelesaikan pembangunan huntara agar para korban tidak lagi hidup dalam ketidakpastian.
“Kami berharap huntara segera dibangun dan diselesaikan. Kami sudah berbulan-bulan tidur di tenda. Pemerintah tolong pikirkan anak-anak kami,” ungkapnya.
Menurut warga, selama ini banyak pihak datang ke desa mereka untuk melihat kondisi dan melakukan pendataan. Namun hingga kini, mereka belum merasakan adanya perubahan nyata.
Di tengah dinginnya malam dan panasnya siang di tenda darurat, warga Dusun Peulalu hanya bisa berharap satu hal: janji hunian sementara yang segera menjadi kenyataan.
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update